"Oemar Bakrie" Profesional?

Pengorbanan seorang guru tidak jarang justru jadi 'makan hati'. Meski jujur dan berbakti namun ia hanya mendapatkan 'tas hitam dari kulit buaya' yang kumal dan 'sepatu kumbang' yang telah butut.Ini hanyalah sebuah cerita tentang guru yang digambarkan oleh Iwan Fals dalam lagunya berjudul "Oemar Bakrie". Gaji seorang guru tidak jarang sangat kecil dan kurang dari cukup untuk membeli kebutuhan hidup sehari-hari. Tidak heran, jika profesi seperti di tukang ojek, berdagang, makelar, bahkan menjadi buruh kasar lainnya menjadi kerja sampingan guru, untuk sekedar menutupi kebutuhan sehari-harinya. profesi guru justru menjadi pekerjaan sampingan dan tidak serius untuk dijalani dan ditekuni. Jika ini terjadi, maka proses belajar mengajar antara guru dan siswa menjadi tidak sehat dan cenderung sangat mekanis. Ini terjadi ketika saya masih duduk dibangku sekolah menengah atas yang ada di kota kabupaten... saya terinspirasi menuliskan cerita dari seorang guru yang sangat saya segani, bahkan sampai sekarang. Faktor yang paling dominan dari kondisi ini adalah karena lembaga pendidikan maupun pemerintah kurang memprihatikan profesi guru.

Penilaian?Embel-embel Belaka

Penilaian pada suatu proses merupakan hal yang harus dilakukan oleh guru dalam proses belajar mengajar. Dengan adanya penilaian maka bisa ditentukan mana siswa yang sudah memenuhi tujuan pembelajaran itu sendiri. Proses penilian sangat berpengaruh sekali dalam penentuan hasil belajar siswa. Tapi yang mengherankan sekarang dengan diberlakukannya Standar Kelulusan siswa yang melibatkan nilai sekolah, kita menyadari bahwa dengan kondisi sekolah yang jauh dari 8 Standar Pendidikan tersebut harus berbenah diri dengan berbagai macam cara. Ujian Nasional sudah berakhir tapi coretan tetang semua goresan yang semestinya tidak dilakukan oleh pihak sekolah masih tetap ada dalam benak guru-guru. Pendidikan sekarang merupakan bukan tambah maju, tapi tambah membuka peluang untuk selalu berlomba untuk menjadikan sekolah yang lulus dan diukur dengan presentase kelulusan yang lebih tinggi, sekolah seakan akan bangga dengan hasil tersebut, tapi ada sebagaian orang itu merupakan momok kebohongan yang terus dan terus terjadi setiap tahunya. Kembali kesistem penilaian hasil belajar siswa, guru dengan kondisi sekolah yang menurut saya tidak pantas, bahkan belum bisa memenuhi standar pendidikan yang diharapkan oleh pemerintah. Sekarang sekolah harus berbenah diri dalam penentuan perangkat pembelajaran bagi guru mata pelajaran. Hhmmm..yang terjadi dilapangan sekarang KKM semua mata pelajaran harus mengikuti standar sekolah yang harus jadi acuan dalam kelulusan siswa nantinya...hasilnya KMM pada dinaikan tanpa melihat semua indikator penentuan KKM mata pelajaran itu sendiri. Yang menjadi pertanyaan cuman satu hal dalam benak saya Kenapa sich sekolah takut ketika siswanya banyak tidak lulus? Kalo begitu apa tambah amburadul sistem penilaian sekarang. Contoh kecil KKM Mata Pelajaran A KKMnya 55 (itu sudah susah payah menghitung dengan acuan penentuan KKM) setelah dikaji ulangan Nilai tersebut kalo jadi acuan tuk nilai sekolah...weleh weleh weleh...Tau sendiri hasilnya kalo semua mata pelajaran yang memiliki KKM rada-rada sama dengan nilai KMM yang saya sebutkan diatas. 

Pernak pernik PSB Tahun 2011/2012

Penerimaan Siswa Baru?itu yang terjadi setiap tahunya...datang dan pergi itulah sekolah.Sekolah bersaing bagaimana mendapatkan siswa yang selektif dengan semua syarat yang harus dipenuhi oleh siswa tersebut, agar bisa terdaftar pada sekolah yang dikendakinya. Sekolahpun bersaing untuk mendapatkan siswa dengan kreteria nilai dan tes yang harus terpenuhi oleh siswa, yang bertujuan untuk mendapatkan siswa yang benar-benar memiliki prestasi yang baik.Kalo siswa yang keterima nantinya siswa yang benar-benar memiliki prestasi yang baik, yang jadi pertanyaan saya siswa yang tidak memiliki prestasi belajar dengan nilai pas-pasan, terus yang tidak mampu bagaimana dengan mereka?pada menurut Undang-Undang semua berhak mendapat pendidikan, dengan kata lain siswa yang tidak keterima di sekolah akan memperpajang putusnya siswa sekolah. Padahal anak negeri yang memiliki prestasi tapi terbentur dengan masalah ekonomi yang pas-pasan masih banyak, dan merekapun behak mengeyam pendidikan, mari kita berbenah dan mengetuk hati kecil kita agar kita lebih peka dengan lingkungan sekitar, agar bisa membatu siswa yang tidak bisa bersekolah agar bisa mendapatkan hak mereka meskipun bantuan kita cuman secuil dalam membantu, dan berusaha agar memberikan dorongan bahwa pentingnya sekolah. dan yang memprihatinkan lagi sekolah yang mendapatkan siswa yang berprestasi terus dari keluarga orang kaya...maka semua panitia pasti meraup keuntungan yang menjadi tambahan bagi segelintir orang yang memanfaatkan situasi PSB setiap tahunnya. 

Membangun Budaya Membaca (Literacy Cultur) di Sekolah

"Menulislah agar dipahami, berbicaralah agar didengar,
dan membacalah agar menjadi besar.”
Awal abad XX ditandai oleh perang Rusia melawan Jepang (1904-1905). Rusia kalah pada pertempuran laut di Selat Tsushima 27-28 Mei 1905.Geoffrey Jukes, penulis The Russo-Japanese War 1904-1905, mengatakan, penentu hasil perang itu bukanlah teknologi, tetapi tingkat literasi.Hanya 20 persen personel militer Rusia bisa ”membaca dan menulis”. Akibatnya, banyak yang tidak mampu mengoperasikan secara benar persenjataan modern (saat itu) dan sistem telegraf nirkabel yang diimpor dari Jerman. Serangan Rusia sering salah sasaran karena salah membaca peta dan salah mengoperasikan jaringan komunikasi.
Sebaliknya, hampir semua tentara Jepang tahu ”membaca dan menulis”. Mereka mahir menggunakan persenjataan militer modern dan memanfaatkan infrastruktur intelijen militer secara benar. Jepang bahkan sudah memodifikasi sistem telegraf nirkabel dari Jerman.
Dari dua fakta sejarah ini tentu kita dapat mengambil kesimpulan tentang betapa pentingnya ”membaca dan menulis” atau yang kita kenal sebagai kemampuan literasi. Lalu bagaimana dengan Indonesia
Minat Membaca Di Kalangan Peserta Didik
Berdasarkan riset lima tahunan pada 2006 yang dikeluarkan oleh Progress in International Reading Literacy Study, yang melibatkan siswa sekolah dasar (SD), menempatkan Indonesia pada posisi 36 dari 40 negara yang dijadikan sampel penelitian. Indonesia hanya lebih baik dari Qatar, Kuwait, Maroko, dan Afrika Selatan. Sementara itu, berdasarkan penelitian Human Development Index (HDI) yang dikeluarkan oleh UNDP untuk melek huruf pada 2002 menempatkan Indonesia pada posisi 110 dari 173 negara. Posisi tersebut kemudian turun satu tingkat menjadi 111 di tahun 2009.
Data-data tersebut tampaknya akan terus memburuk mengingat minimnya infrastruktur dan perhatian yang ada saat ini, seperti terbatasnya jumlah bacaan yang tersedia dan jumlah guru. Berdasarkan data CSM, yang lebih menyedihkan lagi perbandingan jumlah buku yang dibaca siswa SMA di 13 negara, termasuk Indonesia. Di Amerika Serikat, jumlah buku yang wajib dibaca sebanyak 32 judul buku, Belanda 30 buku, Prancis 30 buku, Jepang 22 buku, Swiss 15 buku, Kanada 13 buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, Thailand 5 buku, dan Indonesia 0 buku.
Padahal kita tahu bahwa membaca buku itu penting! Ini semua orang tahu, dan pasti setuju. Oleh sebab itu menjadi sangat beralasan, mengenalkan buku dan kegiatan membaca pada anak-anak. Karena dengan kebiasaan dan kecintaan membaca sejak dini, mereka ketika memelajari apapun akan menjadi lebih mudah. Semakin tinggi kemampuan dan kecintaan terhadap kegiatan membaca, akan semakin tinggi pula tingat kesenangan dan kegembiraan anak-anak ketika belajar. Mereka akan lebih mudah memahami setiap pelajaran di sekolah. Yang pada gilirannya akan meningkatkan prestasi akademik.
Literasi biasanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis. Pengertian itu berkembang menjadi konsep literasi fungsional, yaitu literasi yang terkait dengan berbagai fungsi dan keterampilan hidup. Kemampuan tentara Jepang memahami handbook peralatan perang, membaca peta, mendalami strategi, dan memodifikasi sistem telegraf nirkabel adalah gambaran literasi fungsional.
Konsep maupun praksis literasi fungsional baru dikembangkan pada dasawarsa 1960-an (Sofia Valdivielso Gomez, 2008). Literasi dipahami sebagai ”seperangkat kemampuan mengolah informasi, jauh di atas kemampuan mengurai dan memahami bahan bacaan sekolah” (A Campbell, I Kirsch, A Kolstad, 1992). Melalui pemahaman ini, literasi tidak hanya membaca dan menulis, tetapi juga mencakup bidang lain, seperti matematika, sains, sosial, lingkungan, keuangan, bahkan moral (moral literacy).
Pelajaran Berharga Dari Fakta Temuan PIRLS
Dari fakta temuan PIRLS kita dapat menyimpulkan beberapa hal yang menyebabkan hal ini dapat terjadi. Realitas pertama dari fakta rendahnya minat baca anak Indonesia adalah kualitas perpustakaan yang masih jauh dari memadai ditiap sekolah. Berdasarkan data terakhir, di Indonesia terdapat 169.031 Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Artinya, jika tiap sekolah memiliki satu perpustakaan, seperti yang diamanahkan oleh UU Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan, maka ada 169.031 perpustakaan. Hingga tahun 2011, Kementerian Pendidikan Nasional mencatat 55,39 persen SD belum memiliki perpustakaan sekolah. Dari 143.437 SD, ada 79.445 sekolah belum punya perpustakaan. Adapun di SMP, 39,37 persen sekolah (34.511 dari 13.588 sekolah) tidak punya perpustakaan.
Jika kondisi ideal tersebut dapat terwujud, tentu anak-anak akan memperoleh kemudahan dalam mengakses bahan bacaan. Dan pasti hasil riset PIRLS akan berbicara lain.namun, fakta dilapangan menunjukkan bahwa Sekolah Dasar yang memiliki perpustakaan baru sekitar 1 persen lebih sedikit. Dan hal ini baru sebatas jumlah dan belum menyangkut seberapa banyak koleksi buku yang dipunyai. Apakah keragaman bacaan yang dimiliki sudah cukup memenuhi harapan pemustaka. Bagaimana kondisi fisik perpustakaan (sarana), dan prasarana lainya (buku, rak buku, sistem pengolahannya). Sekaligus apakah petugas yang mengelola perpustakaan adalah pustakawan, atau sekadar guru non job yang dikaryakan. Sehingga perpustakaan yang ada sekadar menjadi tempat buku-buku berhimpun, bertumpuk-tumpuk, kumal, terselimuti debu tebal.
Realita kedua dari fakta rendahnya minat baca anak Indonesia adalah karena tidak ada integrasi yang nyata, jelas, dan tegas antara matapelajaran yang diberikan dengan kewajiban siswa untuk membaca. Siswa tidak diberi keleluasaan dan kebebasan untuk mencari sumber pembelajaran di luar buku teks yang digunakan oleh guru. Satu contoh sederhana, kita tidak memiliki standar minimal tentang bacaan wajib buku yang harus dikhatamkan siswa di tiap jenjang pendidikan, entah itu berdasarkan jumlah (quantity) maupun judul-judul tertentu (quality). Alih-alih secara bertahap dan rutin ada pengecekan tingkat kemajuan bacaan siswa, baik yang menyangkut bacaan yang diwajibkan (required reading), bacaan yang dianjurkan (recommended reading), dan bacaan menyangkut pengetahuan umum (general knowledge).
Realita ketiga, rendahnya minat baca anak Indonesia karena, pengalaman pra-membaca dan membaca (berkenalan dengan buku) yang dialami anak kurang menyenangkan, jika enggan menyebutnya buruk. Buku, sebagai media teks yang lazim digunakan untuk mengukur tingkat minat baca dikenalkan pada anak-anak dengan cara yang tidak menarik. Bahkan menimbulkan pengalaman yang traumatik.
Membangkitkan Minat Baca
Minat baca berarti adanya perhatian atau kesukaan (kecendrungan hati) untuk membaca. Perhatian atau kesukaan untuk membaca merupakan keterampilan dasar untuk belajar dan untuk memperoleh kesenangan. Membaca merupakan alat bagi orang-orang yang melek huruf untuk membaca jendela ilmu pengetahuan dan pengalaman yang luas dan mendalam melalui karya cetak atau karya tulis seperti kata pepatah buku adalah jendela dunia dan perpustakaan adalah pintunya. Tujuan pembinaan minat baca pada anak adalah untuk mengembangkan masyarakat membaca dengan penekanan pada penciptaan lingkungan membaca untuk semua jenis bacaan yang dimulai dalam lingkungan keluarga. Secara lebih khusus, pembinaan minat baca pada anak bertujuan untuk mewujudkan suatu sistem penumbuh-kembangan minat baca dengan menyediakan fasilitas berupa bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan anak.
Buku, sebagai media teks yang lazim digunakan untuk mengukur tingkat minat baca dikenalkan pada anak-anak dengan cara yang tidak menarik. Bahkan menimbulkan pengalaman yang traumatik. Biasanya mereka dikenalkan pada buku untuk pertama kalinya adalah berupa buku pelajaran yang tebal (menurut ukuran anak), sudah begitu, isinya melulu tulisan, ukuran hurufnya pun kecil-kecil, tidak ada gambarnya lagi. Tentu saja keharusan membaca buku yang demikian, laksana menyuruh anak untuk membenci buku secara berjamaah.Namun giliran anak-anak tengah mendapatkan keasyikan membaca buku, meskipun dalam bentuk komik atau cergam (cerita bergambar), buru-buru—terutama para orangtua—melarang keras, disertai semburan kata ancaman. Difatwakan pada anak-anak bahwa membaca komik dan cergam hanya akan membuat si anak malas belajar dan bodoh. Padahal komik bisa menjadi pintu masuk bagi anak untuk mengembangkan imajinasi, serta ragam bacaannya tingkat yang lebih luas dan tinggi. Karena apa yang dibaca sesungguhnya mengikuti perkembangan wawasan, cara berfikir, dan kebutuhan pembacanya.
Lalu bagaimana cara meningkatkan minat baca peserta didik kita. Ibarat pepatah banyak jalan menuju roma, terdapat banyak cara meningkatkan minat siswa untuk membaca. Semuanya tergantung pada kreatifitas guru dan dukungan komponen-komponen lain disekolah seperti kepala sekolah, karyawan dan sekaligus orang tuas siswa. Berikut beberapa cara untuk meningkatkan minat baca siswa dengan berbagai macam kegiatan yang rekreatif dan mendidik:
  1. Penciptaan  atmosfir kelas yang mendukung dengan menempel pajangan hasil karya siswa dengan rapi serta slogan-slogan ajakan agar siswa gemar membaca.
  2. Penyediaan  buku-buku bacaan  yang memadai, baik dari segi kuantitas judul buku maupun kualitas buku di perpustakaan dan setiap ruang kelas.
  3. Tersedianya tempat koran, sebagai media rekreatif setelah siswa penat dengan pelajaran sehari-hari sehingga media koran/surat kabar dapat dijadikan sebagai alternatif media belajar dan ilmu pengetahuan.
  4. Menggalakkan lomba sekolah bertemakan kegiatan menulis, seperti; mengadakan lomba sinopsis, karya tulis, cerpen dan lain sebagainya.
  5. Membuat jadwal kunjungan ke perpustakaan, misalnya setiap hari rabu kelas 5 dan 6 diwajibkan berkunjung ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru. Dalam hal ini pustakawan berperan aktif sebagai pustakawan referens. Jika, siswa ada yang bertanya tentang referensi sebuah mata pelajaran.
  6. Mewajibkan semua siswa, guru, dan karyawan sekolah untuk membudayakan membaca, dan membuat slogan-slogan di kelas seperti “Tiada Hari Tanpa Membaca”, “Gunakan waktu luang untuk membaca”, dan “Buku adalah jendela ilmu pengetahuan”. Dengan membuat kegiatan yang bersifat rekreatif dan edukatif diharapkan dapat membangun minat baca di kalangan siswa sekolah.
Sekolah yang dapat menumbuhkembangkan minat baca anak, tentunya adalah sekolah yang di dalamnya tercipta situasi pembelajaran yang menyenangkan, menumbuh-kembangkan rasa ingin tahu, mengaktifkan siswa, memberi kesempatan kepada mereka untuk berpikir kritis dan logis serta untuk mengembangkan kreativitasnya, dan yang memungkinkan mereka belajar secara efektif. Oleh karena itu sekolah perlu mengelola faktor-faktor yang dapat memotivasi minat baca peserta didiknya.
Sebagaimana kita ketahui, perkembangan minat baca anak tidak hanya ditentukan oleh keinginan dan sikapnya terhadap bahan-bahan bacaan. Banyak faktor yang mempengaruhi, baik itu di dalam diri anak maupun di luar diri anak. Faktor yang mempengaruhi yang berada di luar diri anak antara lain kurangnya perhatian orang tua terhadap perkembangan minat baca anak-anaknya. Bahkan di sekolah dan perguruan tinggi banyak tenaga kependidikan yang kurang memperhatikan perkembangan minat baca peserta didiknya. Faktor lain yang juga turut mempengaruhi adalah terbatasnya jumlah karya cetak, khususnya buku yang diterbitkan baik jumlah eksemplarnya maupun judulnya sesuai dengan kebutuhan anak.
Kepedulian bersama menjada kata kunci terakhir bagaimana meningkatkan minat baca anak ditengah derasnya arus hiburan seperti saat ini. Sebab tanpa itu semua, minat baca sebagai keterampilan yang diperoleh setelah seseorang dilahirkan mustahil akan muncul jika kita bersama tidak memupuk, membina dan mengembangkannya
Daftar Pustaka:
Agus M. Irkham. 2010. Minat Baca Anak Indonesia. Sumber: http://www.indonesiamembaca.org/ diakses 25 April 2011

Lebih Banyak Siswa Lulus UN Tahun Ini

Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) membeberkan, secara keseluruhan prosentase hasil kelulusan pada satuan pendidikan SMA/MA pada tahun ajaran 2010-1011 mengalami kenaikan dibandingkan dengan tahun ajaran sebelumnya.
Dari seluruh 1.461.941 peserta UN SMA/MA, 1.450.498 atau 99.22 persen siswa lulus, sementara 11.443 atau 0.78 persen siswa lainnya dinyatakan tidak lulus.
Pada tahun ajaran sebelumnya (2009-2010), dari 1.522.195 peserta yang mengikuti ujian nasional, yang lulus hanya 1.368.938 atau 89.93 persen, dan 153.257 atau sama dengan 10.07 persen lainnya tidak lulus.
Merujuk pada data di atas, hasil kelulusan nasional satuan pendidikan SMA mengalami kenaikan sekitar lebih dari sembilan persen.
Berikut adalah ringkasan perbandingan siswa lulus dan tidak lulus menurut jurusan pada satuan pendidikan SMA/MA tahun ajaran 2010/2011. Jurusan IPA dengan jumlah peserta 627.859 siswa, 625.924 atau 99.69 persen siswa lulus dan siswa yang tidak lulus sebanyak 1.935 atau 0.31 persen.
Untuk jurusan IPS jumlah pesertanya 34.358, yang lulus sebanyak 33.860 atau 98.55 persen dan 498 siswa tidak lulus atau 1.45 persen. Sedangkan untuk jurusan Bahasa, dari 8.782 jumlah peserta, 8.610 atau 98.04 persen siswanya lulus, dan 172 atau 1.96 siswanya tidak lulus.
Khusus untuk jurusan Agama dengan jumlah peserta terbanyak, dari 790.942 jumlah peseta, 782.104 atau sama dengan 98.88 persen siswanya lulus dan sebanyak 8.838 atau sama dengan 1.12 persen siswa lainnya dinyatakan tidak lulus. sumber KOMPAS.com

Yogyakarta, Peserta UN Paling Jujur

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta kembali memperoleh predikat terbaik dari seluruh provinsi di Indonesia untuk kejujuran dalam pelaksanaan ujian nasional.
"Tahun ini, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih dinyatakan sebagai provinsi yang paling jujur dalam melaksanaan ujian nasional (UN)," kata Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY Baskara Aji di Yogyakarta, Minggu (15/5/2011).
Menurut dia, predikat tersebut diberikan berdasarkan penilaian dari tim independen yang tidak banyak memperoleh keluhan atau melakukan teguran selama pelaksanaan ujian nasional.
Selain itu, predikat tersebut juga dilakukan berdasarkan analisis terhadap pola jawaban peserta ujian nasional. "Jika ada pola jawaban dengan kesalahan yang kembar, maka ada kemungkinan terjadi sesuatu yang berhubungan dengan kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Nasional," ujarnya.
Sementara itu, berdasarkan penggabungan nilai ujian nasional dan ujian akhir sekolah, terdapat 198 siswa dari 41.700 siswa Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah dan Sekolah Menengah Kejuruan yang dinyatakan tidak lulus di Provinsi DIY.
Di tingkat Sekolah Menengah Atas dan Madrasah Aliyah, tingkat kelulusan tertinggi berada di Kabupaten Bantul mencapai 99,66 persen atau hanya hanya ada 15 dari 4.443 siswa yang tidak lulus.
Tingkat kelulusan tertinggi untuk Sekolah Menengah Kejuruan juga masih dipegang oleh Kabupaten Bantul yaitu mencapai 99,88 persen atau hanya ada lima siswa dari 4.190 siswa yang tidak lulus.
Sementara itu, rata-rata total nilai tertinggi untuk SMK juga dipegang Kabupaten Bantul sebesar 31,74 dan terendah oleh Kota Yogyakarta 30,38.
Sedangkan di tingkat Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMA LB), dari 17 siswa yang mengikuti Ujian Nasional, semuanya dinyatakan lulus. "Karena ada perbedaan bobot soal dengan soal yang diujikan di SMA/MA/SMK, maka semua siswa dari SMA LB dinyatakan lulus 100 persen," lanjutnya.
Kriteria kelulusan berdasarkan nilai Ujian Nasional dan Ujian Akhir Sekolah adalah rata-rata 5,5 dan tidak boleh ada nilai di bawah 4,0.Sumber KOMPAS.com

PPDB SMAN-1 CEMPAGA Tahun Pelajaran 2011/2012

Tampilan Depan Brosur

Tampilan Belakang Brosur


Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) atau yang dulu dikenal dengan sebutan PSB (Penerimaan Siswa Baru) SMAN 1 Cempaga tahun pelajaran 2011/2012 akan dimulai pada tanggal 20 Juni 2011 - 25 Juni 2011. Formulir pendaftaran bisa diperoleh langsung di SMA Negeri 1 Cempaga mulai pukul 08.00 - 12.00 WIB setiap harinya. 

DAYA TAMPUNG :
Pada Tahun Pelajaran 2011/2012 SMA Negeri 1 Cempaga hanyak dapat menerima Peserta Didik Baru (siswa) kelas X SMA yang disesuaikan dengan jumlah kelas yang tersedia dan daya tampung sekolah.

SYARAT PENDAFTARAN :
1. Tamat dan memiliki STTB/Ijazah dan Nilai Ujian Nasional/STL/STK/SKHUN SMP/MTs sederajat.
2. Memiliki Nilai Raport Kelas IX semester I dan II.
3. Memiliki Surat Keterangan Berkelakuan Baik dari Sekolah Asal.
4. Memiliki Akte Kelahiran.
5. Memiliki Kartu/Surat Keterangan Golongan Darah
6. Umur maksimal 21 Tahun pada Tahun Pelajaran 2011/2012

CARA PENDAFTARAN :

1. Calon Siswa datang sendiri ketempat pendaftaran untuk mengambil formulir Pendaftaran.
2. Calon Siswa akan dilayani apabila berpakaian rapi, sopan dan bersepatu (tidak boleh pakai kaos/sandal).
3. Menyerahkan berkas pendaftaran yang terdiri dari :
    a. Formulir Pendaftaran yang telah di isi dengan lengkap dan ditempel pas foto ukuran 3X4
    b. Satu lembar foto copy :
        - STTB/Ijazah/STK/STL/SKHUN SMP/MTs sederajat yang telah disyahkan
        - Raport Kelas IX semester I dan II yang disyahkan.
    c. Surat Keterangan Berkelakuan Baik dari sekolah asal.
    d. Foto copy Akte Kelahiran.
    e. Foto copy kartu/Surat Keterangan Golongan Darah.
    f. Masing-masing pernyataan tersebut di atas harus dapat memperlihatkan yang aslinya.
WAKTU DAN TEMPAT PENDAFTARAN
1. Pendaftaran dimulai tanggal 20 Juni s/d 25 Juni 2011
2. Pengambilan formulir pendaftaran dimulai tanggal 20 Juni s/d 28 Juni 2011
3. Pendaftaran dan pengambilan formulir dibuka setiap hari kerja dari jam 08.00 s/d 12.00 WIB, kecuali hari Jum'at mulai jam 08.00 s/d 10.00
4. Tempat Pendaftaran SMA Negeri 1 Cempaga
BIAYA
Biaya pengambilan berkas pendaftaran dan seleksi bagi calon siswa baru tahun pelajaran 2011/2012 sebesar Rp. 60.000,-
SELEKSI
Proses seleksi dilaksanakan pada tanggal 04 s/d 05 Juli 2011. Yang meliputi :
a. Test tertulis Senin, 04 Juli 2011
b. Wawancara Selasa, 05 Juli 2011
Hal-hal lain yang belum jelas dapat ditanyakan langsung pada Panitia PPDB Tahun Pelajaran 2011/2012.

Curang Ujian Nasional Demi Sekolah?

Lengkap sudah kemalangan dan kehancuran negeri ini oleh ulah para penghuninya sendiri. Masih panas dalam benak kita ketika melihat ulah para wakil rakyat yang duduk di gedung DPR dengan hebat beradu argumen demi pembangunan gedung baru yang menguras anggaran negara, ditambah biaya akomodasi jalan-jalan para pejabat keluar negeri untuk berwisata. Sekarang dunia pendidikan dihadapkan pada fenomena lama, kasus lama dan kejadian lama yang tak kunjung usai. Kecurangan Ujian Nasional (UN) bukanlah hal baru dalam dunia pendidikan Indonesia, apa lacur itulah kenyataan yang bukan lagi menjadi rahasia lagi namun telah menjadi budaya masyarakat pendidikan Indonesia.
Apakah hati kita menerima kenyataan dengan kecurangan ini? Pasti semua akan menjawab "tidak" kecuali mereka yang telah hilang akal sehatnya. Seperti diberitakan Jawa Pos hari ini "Para guru dalam kasus itu merupakan pihak yang bisa disebut terjepit. ’’Idealismenya untuk jujur mendapat tekanan kuat,’’ ujar dia. Tekanan kepada guru diberikan kepala sekolah. Sedangkan kepala sekolah juga ditekan oleh kepala daerah.... Guru tidak bisa mengelak dari perintah kepala sekolah. Sebab, mereka takut mendapatkan rekomendasi untuk dimutasi ke sekolah lain. Kepala sekolah juga demikian. Mereka takut dimutasi kepala dinas pendidikan setempat karena gagal meluluskan seluruh siswa didiknya." Sungguh memprihatinkan.
Jika dulu kecurangan itu dilakukan secara perorangan oleh para peserta ujian, sekarang kecurangan itu justru membesar menjadi kecurangan berjamaah yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan penyelenggara ujian secara terstruktur dari mulai dinas pendidikan hingga tingkat sekolah. Walaupun Dinas Pendidikan Pusat akan menghapus sekolah yang kedapatan melakukan kecurangan UN namun kemungkinan tindakan curang tetap saja bisa terjadi dilapangan, karena hal ini sudah terorganisir dengan baik dari mulai pengiriman soal UN sampai dengan pengawas silang yang sudah "ditatar" untuk bisa saling mengerti dan memahami keadaan dengan dalih demi kelulusan anak didik. Inilah potret suram pendidikan Indonesia yang justru jika kita telisik lebih jauh akan berdampak lebih buruk lagi untuk generasi Indonesia. Hancur!!! itulah kata yang tepat untuk dunia pendidikan Indonesia, menjadi barang langka untuk bisa menemukan lembaga pendidikan yang menjunjung tinggi idealisme pendidikan.
Generasi yang terbentuk dari kecurangan-kecurangan seperti ini pasti akan menjadi generasi curang juga yang rendah moral dan mental. Generasi ini adalah generasi yang tidak akan pernah mampu bersaingan dalam tatanan pasar global, karena nilai tinggi yang mereka peroleh hanya sebagai salah satu cara untuk lolos dari satu pintu yaitu UN namun takkan mampu melewati pintu yang lain yaitu kehidupan nyata yang penuh persaingan ilmu pengetahuan dan teknologi. Lalu akan jadi apa generasi curang ini? Sampah negara yang akan terus menggerogoti negara ini hingga luluh lantak oleh pedang liberal yang sudah menggema sejak dulu. Sadarkah diri kita bahwa ini adalah ancaman dimasa datang, dimana generasi liberal ini bereinkarnasi menjadi generasi yang bobrok tanpa mental dan moral? Tak ada lagi rasa hormat terhadap guru, guru tak ada lagi keinginan untuk bangkit dari keruntuhan pendidikan, dinas pendidikan diam seribu bahasa karena proyek yang berjubel uang.
Bangkitlah!!! Mari kita tata kembali dunia pendidikan Indonesia dari keterpurukan ini. Bangkitkan idealisme pendidikan sesuai dengan fitrah manusia untuk belajar dan mengajar agar generasi kita mampu terbentuk menjadi generasi yang handal dan siap bersaing. Bangkitkan kembali dunia pendidikan seperti yang telah di contohkan pada masa kejayaan Islam 14 abad yang lalu dengan mendirikan Syariah dan Khilafah. Selamatkan generasi ini dengan menegakan syariah dan khilafah di bumi Allah...
Dikutip dari http://dedehendriono.blogspot.com/2011/04/curang-ujian-nasional-demi-sekolah.html

"Zeitgeist" Pendidikan

Gejala kritis pendidikan yang terkait dengan kecenderungan negatif yang melanda negeri kita sebagai akibat globalisasi adalah bahwa pendidikan dijadikan sebagai arena bisnis terutama untuk meningkatkan penghasilan, bukan untuk meningkatkan kreativitas pembelajarannya. Persaingan ketat dalam dunia bisnis yang menjurus ke arah rivalitas yang negatif dengan berbagai dampaknya merasuk juga dalam Zeitgeist dunia sekolah. Situasi kompetitif memperlihatkan bahwa pelaku bisnis bukan menganggap sesamanya sebagai sejawat seperjuangan dalam mencapai suatu...

kondisi kehidupan ekonomi yang sehat, melainkan pelaku bisnis beranggapan bahwa rekan bisnis adalah saingan (rival) yang harus ditaklukkan.Ekses seperti ini dampaknya dapat kita amati dalam dunia muda-mudi, di mana bukan saja pelajar SMU, melainkan juga mahasiswa tawuran menjadi fenomena yang kritis dalam kehidupan sehari-hari. Eliminasi terhadap kecenderungan rivalitas yang sifatnya negatif ini harus beranjak dari suatu refleksi terhadap akibat yang menjadi dampak dari perkembangan yang menyimpang (deviant) dari seluruh masyarakat kita.
Terlebih lagi, peradaban baru (era ke-4, setelah era agraris, era industri, dan era informasi) kini ditandai oleh respiritualisasi masyarakat yang ditandai oleh kecenderungan akan kerja sama (Cooperation, Maynard, 1997)Dengan sering mengabaikan kualitas pembelajaran, pengaruh dari sikap dan ciri penyelenggaraan pendidikan yang masih ditandai oleh ciri-ciri rivalitas yang tidak sehat ini akan berdampak luar biasa pada anak-anak kita (yang berada dalam tahap perkembangan kritis), dan sedang dalam fase mencari identitasnya, mendudukkan diri antara situasi aktual dan situasi ideal.Pengaruh negatif dari luar dinding sekolah ditambah pula oleh orientasi pembelajaran yang ditandai oleh ciri alienatif karena keterasingan pebelajar dari proses belajar yang sesungguhnya.Hal ini terutama berkait dengan proses belajar yang bersifat satu arah, di mana dosen ataupun guru mempertanggungjawabkan body of material secara sepihak. Si pebelajar secara dominan bersifat pasif karena pengajar mengalirkan sejumlah ilmu kepadanya, ibarat suatu bejana yang airnya dituangkan dari luar ke dalam dirinya.Oleh : Conny Semiawan (Doktor Kependidikan, Guru Besar pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta)

Popular

Catatanku